Translate

Jumat, 19 Desember 2008

Cinta Perbatasan

Cinta Perbatasan

Posted on May 1, 2008 by sebatik. edit.
Categories: SASTRA.

“Asyah namanya, gadis yang telah memberikanku dan mengajarkan perbedaan dua rasio hal yang berbeda antara arti Cinta, kasih sayang, kebahagiaan, nurani serta keabadian. Dan kepalsuan, kesusahan, maupun cara menahan emosi.
Asyah gadis yang sangat kucintai.”

CINTA PERBATASAN

“Untuk seorang wanita yang setia menungguku selama dua tahun”

Hari ini, tidak ada yang begitu istimewa bagiku. yang istimewa bagiku yaitu saat kuliah, berkumpul bersama teman-teman, makan jalan-kote, siaran di radio kampus CBC FM radio yang telah memberikan banyak makna buatku. Tanpa makna kulalui hari ini pikirku, semuanya tampak palsu. Walaupun hari ini libur nasional, kenaikan Isa al-Masih, yang mungkin buat sebagian teman-temanku merupakan hari kemerdekaan nasional, yah…tanpa kuliah, ceramah dosen, konflik fakultas dan hal membosankan lainnya. Sampai aku bertemu dengan seseorang disuatu ketika hari itu, semuanya berubah.

Nampak seberkas sinar membelaiku, sinar itu menari-nari, tidak kuhiraukan! sinar itu tampaknya tidak mau menyerah, dengan penuh emosi ia makin memperlihatkan keanggunannya membelai jiwaku merasuk kedalam retina mataku yang berat ini, maklum tadi malam saya begadang di Liga Film, banyak tugas yang belum kuselesaikan.
Akhirnya, aku menyerah, aku tak berdaya, aku bangun. Seperti cinta seorang Ibu yang membagunkan anaknya untuk kesekolah sebelum terlambat. Sinar pagi itu mengisaratkan padaku, masih banyak tugas dan kegiatan yang menunggu. Maklum, di Makassar aku jauh dari Ibu. Alam, lingkungan, sahabat, teman-teman mengambil sebagian peranan Ibu dirantauan ini.

KRING…KRINGGG KRING……KRINGGG Ternyata suara nada pesan dari telepon genggamku yang sudah jadul.
“We Bencong Kenapa tidak pergi nuambil itu surat untuk ditandatangani sama ketua Korps” Begitu tulisan pesan singkat tersebut dari Lilies, sekretaris kegiatan acara kami.
“Iyo deh cepat ja kesana” Balasku dengan sedikit malas.
“Tapi mauka dulu kerja sepanduk nach!!!!” Kataku, sebenarnya, ini hanya alasan untuk mengelak dan mengulur waktu dari tugas tersebut, maklum spanduk tersebut sudah selesai dikerjakan sama Iko, temanku yang sangat penurut.
“Io, tapi cepat koch kalau tidak nda jadi itu acarata’” Ngomel lilies kepada saya

Akhirnya, sesampai dikampus aku memutuskan untuk kembali ke Sekret Liga Film untuk isterahat kembali, maklum rasanya tidurku masih belum cukup, itu artinya aku harus membayar utang tidur, biar lebih sehat pikirku.
Maklum rasio kebahagiaan tidur dan begadangku akhir-akhir ini tidak seimbang. Ketika sampai di di depan pangkalan ojek Rektorat, Mataku seolah-oleh ditarik oleh sebuah magnet, dimana aku tampaknya akrab dengan objek tersebut. Yah objek tersebut tidak asing bagiku.
Yang kulihat adalah seorang mahasiswi Malaysia yang kuliah di Kedokteran Unhas, mengenakan baju kurung motif bunga-bunga warna-warni, gadis itu bernama Isah. Tampak akrab, dan pemandangan itu memaksaku untuk memutar kembali kenangan masa laluku dengan seoarang gadis malaysia, Asyah namanya, gadis yang telah memberikanku dan mengajarkan perbedaan dua rasio yang berbeda antara arti Cinta, kasih sayang,, nurani, Kebahagiaan serta keabadian. Dan kepalsuan, kesusahan, maupun cara menahan emosi.
Asyah gadis yang sangat kucintai.

Bersama Asyah kami bahagia, kami, dua orang anak manusia yang berbeda kewarganegaraan yang menjalin hubungan percintaan. Disana kami bertemu Disebuah pulau yang kedua sisinya berbatasan langsung sebelah utara Malaysia dan selatan Indonesia, pulau itu bernama Pulau Sebatik, Ambalat Aku yang bersuku asli Bugis-Makassar yang Ia selalu sebut dengan “Indonku”. Dan Ia Campuran Peranakan Bugis, Arab dan melaysia yang biasa aku panggil dia dengan “Melayuku” Sering bertemu dirumah Tantenya yang sering kami jadikan tempat kencan, rumah itu unik, bagian dapurnya negara bagian Malaysia dan Ruang tamunya Indonesia. Kenagan itu indah tapi coba kulupakan, meskipun susah, masih banyak tugasku lain yang perlu kuselesaikan aku tidak mau terganggu oleh bayangan dan kenangan Asyah saat ini.

Akhirnya aku sampai di sekret, setelah kelelahan berjalan, aku mengambil posisi berbaring di tempat tidur.
Dengan samar-samar bayangan Asyah mencoba masuk dalam pikiranku
“Abang Kemal, sungguhka abang mencintai Adinda” Tanya Aisyah
“Apalah Adinda Cakap Ni, Pastilah Abang cintai sama Adinda kalau tidak, manalh saya mau nikah dengan Adinda” Jawabku
“Okelah saya dah percaya sama Abang, berapa Kanak-kanak abang mahukan, tujuh ke’ tau sebelas ke’” Pinta Aisyah
“Aduh kamu nih ada-ada saja manalah Abang sanggup, oke dah sebelas, adinda jadi Gawangnya biar Abang sahaja Jadi Referinya” Kataku menggodanya.
Kami berdua nampak mesra malam pertama pernikahan kami.
“Adinda mahukan Kanak-kanak kita berkewarganegaraan apa Indon kah or Malaysia kah”
“Terserah Abanglah yang adillah Bang” dengan wajah ayu menggodaku
Aisyah memang cantik, secantik dan sealami Sitti Nurhalisa, jika banyak Artis Indonesia yang ingin menikahi Sitti Nurhalisa dan berambisi menjadikan hubungan Malaysia dan Indonesia lebih dekat.
Maka hari ini aku akan mempersatukan kedua anak manusia beda negara ini untuk bersatu melalui anak-anak kami. Dengan doa aku melakukan hal tersebut. Aku bahagia kami telah bersatu, juga menangis mengingat kami telah membuat Malaysia dan Indonesia bersatu.
Semoga saja hubungan kedua negara tersebut abadi. tidak terjadi persengketahan wilayah, seperti ketika pulau kami Pulau Sebatik, Ambalat menjadi persengketahan, dua tahu lalu. Air mataku terjatuh diatas darah keperawanan Aisyah bercampur baur, menyatu, bersatu.
Ketika belaian lembut tangan Aisyah mebelai kepalaku,samar-samar suara Azan membangunkan aku untuk salat Magrib.
Aku tersadar. bangun, masih dalam keadaan menangis. nuraniku terusik, merenungi keputusanku untuk meniggalakanya dan memutuskan kuliah di Makassar jurusan ilmu komunikasi.
Ternyata cinta abadi yang kami yakini ada pada kami terhalang oleh pembatas-pembatas yang ada kami dipisahkan oleh ruang dan waktu, dipisahkan oleh dua negara, selat Makassar, dan keinginan orang tuanya.
Kemarin Aku mendapat kabar dari Nur Faisah, sahabat dan sepupuh Asyah, melaui e-mail, Nur mengirimkan pesan,bahwa Aisyah telah menikah, dijodohkan oleh orangtuanya dengan salah seorang pengusaha perkebunan kelapa sawit, keturunan Bugis. dan pesan tersebut lengkap dengan foto dan video pernikahan.
Aku mengusap air mataku dan bergegas shalat Magrib mendokan yang terbaik buatnya. liburan panjang semester genap kali ini saya berencana pulang ke Ambalat, menemuinya dan mengucapkan “Selamat Berbahagia”

Mungkin perlu waktu lama untuk menerima semua kenyataan ini. Engkau mengajarkanku tentang arti iklas. Tapi aku rasanya belum mampu untuk itu. aku masih menagis saat ini. kau terasa begitu dekat, serasa kau disampingku, ditulang rusukku, menemaniku. Namun aku tak mengharap apa-apa lagi. tak mengharap apa-apa lagi…..

Ditulis Di Makassar, 1 Mei 2008
Pukul 23:lebih
Untuk tugas mata kuliah penulisan Kreatif

0 comments: